Ukraina siap menyelenggarakan pemilu jika kondisi keamanan dapat dijamin. Presiden Volodymyr Zelensky telah mengatakan, menanggapi klaim baru dari AS Presiden Donald Trump bahwa Kyiv memperpanjang perang untuk menghindari pemungutan suara.
Masa jabatan presiden Zelensky selama lima tahun seharusnya berakhir pada Mei 2024, tetapi pemilihan telah ditangguhkan sejak darurat militer diberlakukan menyusul invasi skala penuh Rusia ke Ukraina. Berbicara kepada wartawan setelah pernyataan Trump dalam sebuah wawancara luas dengan PolitikusZelensky mengatakan bahwa ia terbuka terhadap perubahan hukum yang dapat memungkinkan pemilihan umum dalam kondisi tertentu.
Dia menjelaskan bahwa pemungutan suara berpotensi dapat dilakukan dalam waktu 60 hingga 90 hari, asalkan keamanan bagi pemilih, kandidat, dan tempat pemungutan suara terjamin dengan dukungan Amerika Serikat dan mitra Eropa Ukraina.
“Saya secara terbuka meminta Amerika Serikat, mungkin bersama dengan kolega-kolega Eropa kami, untuk membantu memastikan keamanan pemilu,” kata Zelensky.
Zelensky Menolak Klaim Bertahan dalam Kekuasaan
Zelensky menekankan bahwa keputusan untuk mengadakan pemilihan umum adalah hak rakyat Ukraina, bukan pemerintah asing. Ia menolak anggapan bahwa dirinya atau pemerintahannya berupaya mempertahankan kekuasaan, dan menyebut klaim bahwa perang terus berlanjut untuk mempertahankan jabatannya sebagai "sama sekali tidak masuk akal."
Pemimpin Ukraina itu terpilih pada tahun 2019 dengan lebih dari 73% suara. Namun, Rusia berulang kali mempertanyakan legitimasinya dan menuntut pemilihan umum baru sebagai syarat gencatan senjata—argumen yang juga digaungkan oleh Trump.
Presiden AS mengklaim demokrasi dirusak ketika pemilihan ditunda dan menyatakan Zelensky adalah penghalang perdamaian, meskipun tidak ada bukti yang disajikan untuk mendukung klaim tersebut.

Tantangan Menyelenggarakan Pemilu Selama Masa Perang
Suara-suara oposisi di Ukraina telah menyuarakan kekhawatiran serius tentang kepraktisan pemilihan umum selama konflik aktif. Lesia Vasylenko, seorang anggota parlemen oposisi Ukraina, mengatakan bahwa pemungutan suara yang adil hanya akan mungkin terjadi jika semua warga negara dapat berpartisipasi, termasuk tentara yang bertempur di garis depan.
Dia juga menunjukkan bahwa pemilihan umum biasanya ditangguhkan selama masa perang, dan mencatat bahwa Inggris menghentikan pemilihan umum selama Perang Dunia Kedua.
Para analis menyoroti hambatan lebih lanjut, termasuk serangan rudal yang terus berlanjut, wilayah yang tidak aman, hampir satu juta tentara aktif, dan jutaan pengungsi Ukraina yang tinggal di luar negeri.
“Saat ini, sangat sulit untuk menjamin keamanan tempat pemungutan suara,” kata Hanna Shelest, seorang analis kebijakan luar negeri di lembaga think tank Prism Ukraina.
Opini Publik dan Tekanan Diplomatik
Opini publik di Ukraina tetap terpecah. Sebuah jajak pendapat oleh Institut Sosiologi Internasional Kyiv (KIIS) pada bulan Maret menemukan 78% warga Ukraina menentang pemilihan umum bahkan setelah gencatan senjata dengan jaminan keamanan. Pada bulan September, penentangan turun menjadi 63%, sementara dukungan untuk pemilihan umum setelah gencatan senjata meningkat menjadi 22%.
Pada saat yang sama, Zelensky menghadapi tekanan yang semakin besar dari Trump untuk menyetujui kesepakatan damai yang dapat melibatkan konsesi teritorial kepada Rusia. Trump telah mengkritik para pemimpin Eropa sebagai lemah dan mengisyaratkan bahwa dukungan AS untuk Ukraina dapat dikurangi.
Saat ini Zelensky sedang melakukan kunjungan diplomatik ke Eropa setelah pembicaraan intensif namun tidak menghasilkan kesimpulan antara negosiator AS dan Ukraina. Ia mendesak para pemimpin Eropa dan NATO untuk menolak kesepakatan apa pun yang dapat membuat Ukraina rentan terhadap serangan di masa depan dan dengan tegas menolak penyerahan wilayah Ukraina.

