Pasukan pemerintah Suriah telah mengambil alih kendali pangkalan militer strategis al-Tanf di dekat perbatasan Irak dan Yordania, demikian diumumkan oleh kementerian pertahanan Suriah pada hari Kamis.
Menurut kementerian tersebut, unit-unit Tentara Arab Suriah memasuki dan mengamankan pangkalan dan daerah sekitarnya “dalam koordinasi antara pihak Suriah dan Amerika,” saat pasukan AS menyelesaikan penarikan mereka.
Para pejabat mengatakan pasukan Suriah telah mulai dikerahkan di sepanjang beberapa bagian perbatasan Suriah-Irak-Yordania, dan unit penjaga perbatasan tambahan diperkirakan akan ditempatkan dalam beberapa hari mendatang.
Pusat Anti-ISIL Utama
Pangkalan al-Tanf didirikan pada tahun 2014 selama perang saudara Suriah sebagai pusat operasi utama bagi koalisi pimpinan AS yang memerangi ISIL (ISIS). Pada puncak konflik, kelompok bersenjata tersebut menguasai sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak sebelum sebagian besar dikalahkan pada tahun 2017.
Penarikan pasukan ini menandai perubahan signifikan dalam kehadiran militer AS di Suriah, di mana pasukan Amerika telah mempertahankan kehadiran selama bertahun-tahun sebagai bagian dari operasi kontra-terorisme.
Militer AS belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penarikan pasukan dari al-Tanf. Namun, mantan Presiden Donald Trump telah berulang kali mengisyaratkan minat untuk mengurangi atau mengakhiri penempatan pasukan AS di Suriah selama masa jabatannya.
Pergeseran Politik di Suriah
Perkembangan ini terjadi beberapa bulan setelah Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya terkait dengan kelompok bersenjata Hayat Tahrir al-Sham, bergabung dengan koalisi internasional melawan ISIS pada bulan November. Al-Sharaa sebelumnya telah ditetapkan oleh AS sebagai "Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus".
Secara terpisah, kesepakatan yang ditengahi AS awal tahun ini membuka jalan bagi integrasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi — yang sejak lama dianggap sebagai mitra penting AS dalam melawan ISIS — ke dalam lembaga-lembaga negara Suriah. Washington menggambarkan kesepakatan itu sebagai langkah penting menuju rekonsiliasi dan persatuan nasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan pemerintah Suriah memperluas kehadiran mereka di beberapa bagian Suriah timur laut yang sebelumnya berada di bawah pemerintahan Kurdi. Bentrokan antara SDF dan pasukan Suriah dilaporkan terjadi sebelum gencatan senjata tercapai.

Pemindahan Narapidana dan Pengurangan Kekuatan
Seiring dengan pergeseran kendali wilayah, pasukan AS memindahkan ribuan tahanan ISIS dari penjara yang sebelumnya dikelola oleh SDF ke fasilitas di bawah pengawasan pemerintah Suriah.
Jumlah personel militer AS yang ditempatkan di Suriah telah berfluktuasi dari waktu ke waktu. Sebuah pernyataan Pentagon pada Juli 2025 menyebutkan sekitar 1,500 personel Amerika di negara tersebut, meskipun laporan yang lebih baru menunjukkan jumlahnya telah menurun menjadi sekitar 900.
Awal bulan ini, para pengamat melaporkan tanda-tanda pengurangan pasukan AS di provinsi Hasakah timur laut, termasuk penurunan bendera AS dari menara pengawas di dekat daerah al-Shaddadi dan pemindahan peralatan yang digunakan untuk mengelola operasi landasan udara.
Kekhawatiran Keamanan yang Berkelanjutan
Meskipun terjadi pengurangan pasukan, AS terus melanjutkan operasi kontra-terorisme di Suriah. Pada bulan Januari, pasukan Amerika melakukan serangan yang oleh para pejabat digambarkan sebagai serangan "berskala besar" terhadap target ISIS setelah penyergapan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil.
Dengan pasukan Suriah kini menguasai al-Tanf, para analis mengatakan langkah ini menandai fase baru dalam lanskap keamanan Suriah yang terus berkembang — fase yang dibentuk oleh berkurangnya keterlibatan AS dan perluasan wewenang Damaskus di sepanjang wilayah perbatasan utama.

