Sementara unit Delta Force Angkatan Darat AS dilaporkan menyelesaikan cetak biru terakhir untuk misi malam rahasia di dalam Caracas, Presiden Nicolás Maduro masih tersenyum di dalam Istana Miraflores. Dia baru saja menyelesaikan sesi foto hangat dengan Tiongkok diplomat paling senior untuk Amerika Latin, memuji Beijing dan pemimpinnya.
“Saya berterima kasih kepada Presiden Xi Jinping atas persaudaraannya—seperti seorang kakak laki-laki yang melindungi,” kata Maduro kepada Qiu Xiaoqi, yang memicu tawa dari kedua belah pihak selama pertukaran pendapat mereka di istana.
Suasana ramah itu lenyap sebelum matahari terbit. Dalam sebuah kejadian dramatis, pasukan komando elit AS memasuki Caracas di bawah kegelapan malam dan menahan presiden Venezuela langsung dari kamar tidurnya. Operasi tersebut, yang dilakukan oleh unit khusus militer tingkat tertinggi Amerika Serikat, segera mengguncang Beijing, yang selama beberapa dekade menganggap Caracas sebagai salah satu sekutu ideologis dan ekonomi terkuatnya.
Ikatan Strategis yang Telah Terjalin Lama
Kemitraan antara Tiongkok dan Venezuela berakar pada sejarah yang telah berlangsung selama beberapa dekade, dibangun atas dasar keselarasan politik, kecurigaan bersama terhadap dominasi global AS, dan kerja sama ekonomi yang terus berkembang.
Pada tahun 2023, kedua pemerintah meresmikan "kemitraan strategis sepanjang masa," mempererat dukungan diplomatik, bantuan keuangan, dan arus perdagangan. Venezuela juga menjadi salah satu negara yang paling banyak menerima pembiayaan dari pinjaman luar negeri Tiongkok, terutama di bidang infrastruktur, telekomunikasi, dan fasilitas energi nasional.
Pengiriman minyak mentah Venezuela semakin banyak mengalir ke China sejak tahun 2019, ketika pemerintahan Trump memberlakukan sanksi. Laporan intelijen pasar dari akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa China mungkin telah menyerap sebagian besar ekspor minyak Venezuela yang terbatas, yang sering kali dibeli dengan diskon besar oleh kilang minyak independen China yang secara informal dikenal sebagai kilang "teko".
Posisi istimewa Beijing kini tidak pasti. Para pejabat AS telah mengisyaratkan bahwa China mungkin masih akan membeli minyak mentah Venezuela—tetapi kemungkinan tanpa pemotongan harga besar yang pernah membuatnya menarik.

Beijing Mengecam, Tetapi Platform Media Sosial Tiongkok Memicu Reaksi
Pemerintah China dengan cepat mengecam penangkapan Maduro, menuduh Washington bertindak seperti penegak hukum global alih-alih menghormati kedaulatan nasional.
Namun, reaksi daring menceritakan kisah yang berbeda. Di Weibo, percakapan terkait penahanan tersebut melampaui 650 juta tampilan, didominasi oleh spekulasi yang condong ke nasionalisme. Banyak pengguna memuji keberanian misi tersebut, menganggapnya sebagai bukti bahwa negara-negara kuat dapat membentuk kembali geopolitik melalui tindakan langsung.
Sejumlah besar komentator kemudian mengarahkan perdebatan ke Taiwan. Logika yang sama berulang di berbagai utas diskusi: Jika AS dapat menangkap seorang pemimpin di dekat perbatasannya, mengapa China tidak dapat melakukan hal yang sama di wilayah yang diklaimnya sendiri?
Taiwan Menolak Perbandingan Tersebut
Para pejabat dan anggota parlemen di Taipei dengan cepat menepis perbandingan tersebut.
“China bukanlah Amerika Serikat, dan Taiwan bukanlah Venezuela,” kata anggota parlemen tersebut. Wang Ting-yu, seorang anggota senior Komite Luar Negeri dan Pertahanan Taiwan. Ia berpendapat bahwa Beijing tidak kekurangan permusuhan—hanya kemampuan praktis untuk melaksanakan operasi semacam itu.
Para analis sebagian besar sepakat. William Yang Seorang analis dari International Crisis Group mengatakan bahwa misi AS kemungkinan tidak akan mengubah jadwal invasi atau perhitungan militer China. Sebaliknya, langkah Beijing selanjutnya akan terus dibentuk oleh kondisi ekonomi, kesiapan PLA, politik domestik Taiwan, dan ketegangan kebijakan AS-China.
Namun, ia memperingatkan bahwa peristiwa tersebut mungkin mencerminkan pergeseran yang lebih luas: negara-negara yang menggunakan kekuatan militer untuk memengaruhi kebijakan luar negeri dapat menjadi semakin lazim.
Pengaruh China di Amerika Selatan Masih Sangat Dalam
Meskipun kehilangan mitra politik utama, Beijing diperkirakan akan melindungi pijakan ekonominya di Amerika Latin—terutama di bidang telekomunikasi dan infrastruktur energi, di mana penarikan perusahaan-perusahaan Tiongkok terlalu cepat dapat memicu ketidakstabilan.
Konsultan di Eurasia Group juga meyakini bahwa China kemungkinan akan fokus pada upaya pengendalian kerusakan atas investasinya, bukan eskalasi langsung dengan AS di kawasan tersebut.
Titik Balik Regional Baru
Dengan Maduro yang untuk sementara waktu tidak berkuasa, Washington kembali menjadi sorotan dalam apa yang secara informal digambarkan oleh para pejabat China dan AS sebagai tarik-menarik geopolitik di Belahan Barat.
Para investor energi mengatakan bahwa penggerebekan itu sendiri mungkin tidak akan mengganggu pasokan minyak China secara signifikan karena penurunan produksi Venezuela. Namun secara politis, dampaknya sangat besar: Caracas dulunya merupakan simbol jangkauan Tiongkok di Amerika Latin. Kini, kota ini menjadi simbol betapa cepatnya pengaruh dapat berbalik.

