Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara baru di Lebanon selatan, merusak beberapa rumah dan meningkatkan kemarahan atas pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata tahun lalu dengan Hizbullah.
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan pada Senin malam bahwa jet-jet Israel menyerang Gunung Safi, kota Jbaa, Lembah Zefta, dan daerah antara Azza dan Rumin Arki dalam beberapa gelombang. Tidak ada laporan korban jiwa segera.
Militer Israel mengatakan pada X bahwa mereka menargetkan beberapa lokasi yang terkait dengan Hizbullah, termasuk fasilitas pelatihan operasi khusus yang digunakan oleh Pasukan Radwan, bersama dengan beberapa bangunan dan area peluncuran roket.
Pemantauan Gencatan Senjata dan Meningkatnya Ketegangan
Pemogokan itu terjadi tak lama setelahnya. Israel dan Lebanon mengirim perwakilan sipil ke komite militer yang bertanggung jawab untuk mengawasi gencatan senjata mereka — sebuah langkah yang didorong oleh Amerika Serikat untuk memperluas dialog antara kedua negara.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan pemerintahnya memilih negosiasi untuk menghentikan serangan Israel yang berkelanjutan. Gencatan senjata, yang ditengahi oleh Washington pada tahun 2024, mengakhiri pertempuran selama lebih dari setahun, tetapi Israel terus melakukan serangan hampir setiap hari.

Sebuah laporan PBB pada bulan November menyebutkan setidaknya 127 warga sipil, termasuk anak-anak, telah tewas di Lebanon sejak gencatan senjata dimulai. Para pejabat PBB memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Ketegangan semakin meningkat pekan lalu ketika Israel membombardir pinggiran selatan Beirut dan menewaskan komandan militer tertinggi Hizbullah, Haytham Ali Tabtabai. Kelompok tersebut, yang masih melemah setelah konflik tahun lalu, belum memberikan tanggapan.
Kekhawatiran tentang Eskalasi
Israel berpendapat bahwa Lebanon tidak melakukan cukup upaya untuk menekan Hizbullah agar menyerahkan senjatanya — sebuah klaim yang ditolak oleh pemerintah Lebanon. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam baru-baru ini mengatakan bahwa mekanisme pemantauan gencatan senjata harus memainkan peran yang lebih kuat, termasuk memverifikasi apakah Hizbullah mempersenjatai diri kembali dan menilai operasi tentara Lebanon.
Ketika ditanya apakah Lebanon akan menerima pasukan AS dan Prancis sebagai bagian dari sistem verifikasi ini, Salam menjawab, “Tentu saja.”
Serangan Israel yang terus berlanjut telah meningkatkan kekhawatiran bahwa Israel mungkin akan memperluas kampanye udaranya. Hizbullah telah menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan senjata mereka selama Israel terus menyerang wilayah Lebanon dan menduduki lima titik sengketa di selatan.

