Pertemuan BRICS Pertemuan para menteri luar negeri dibuka di New Delhi pada hari Kamis, di tengah perang yang sedang berlangsung di Iran Diperkirakan akan mendominasi diskusi di antara negara-negara berkembang utama di dunia.
Pertemuan dua hari ini berlangsung pada momen yang sensitif, bertepatan dengan Presiden AS. Donald Trump Kunjungan kenegaraan ke China dan meningkatnya kekhawatiran internasional atas blokade Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Dalam pidato pembukaannya, Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menyerukan pergerakan maritim yang aman dan tidak terbatas melalui perairan internasional. Komentarnya disampaikan saat Selat Hormuz masih diblokir, mengganggu jalur yang biasanya membawa sebagian besar pasokan minyak dan gas global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menggunakan pertemuan tersebut untuk menyerukan kepada anggota BRICS agar mengutuk Amerika Serikat dan Israel, menuduh mereka melakukan agresi ilegal terhadap Teheran.
BRICS Menghadapi Perpecahan Terkait Konflik Iran
Pertemuan tersebut menyoroti posisi sulit yang dihadapi BRICS ketika blok tersebut berupaya mempertahankan persatuan sementara para anggotanya memiliki pandangan yang berbeda tentang perang melawan Iran.
India, sebagai negara tuan rumah, harus dengan hati-hati menyeimbangkan hubungannya dengan Iran, Uni Emirat Arab, dan Israel. UEA, yang kini menjadi anggota BRICS, memiliki ketegangan tersendiri dengan Teheran, sehingga menyulitkan blok tersebut untuk menyepakati posisi bersama.
Isu Iran telah menciptakan masalah bagi diplomasi BRICS. Awal tahun ini, pertemuan BRICS tentang Timur Tengah dan Afrika Utara di New Delhi berakhir tanpa pernyataan bersama setelah Iran dan UEA tidak sepakat tentang bagaimana menangani perang AS-Israel terhadap Iran.
Perang di Gaza juga telah menyebabkan ketegangan di dalam blok tersebut. India, yang telah membangun hubungan yang lebih dekat dengan Israel, dilaporkan mencoba untuk melunakkan kritik terhadap Israel selama diskusi BRICS sebelumnya, sehingga mempersulit tercapainya konsensus.
Apa itu BRICS?
BRICS adalah kelompok negara-negara berkembang utama yang bertujuan untuk meningkatkan pengaruh negara-negara Selatan dalam politik global, perdagangan, keamanan, dan lembaga internasional.
Anggota awalnya adalah Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Kelompok ini kemudian berkembang dengan bergabungnya Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Arab Saudi telah diundang tetapi belum secara resmi menjadi anggota.
BRICS mengadakan pertemuan puncak tahunan, dengan setiap negara anggota bergantian menjadi tuan rumah. Tahun ini, India menjadi tuan rumah pertemuan puncak utama, sementara pertemuan para menteri luar negeri di New Delhi diharapkan dapat membantu mempersiapkan agenda.
Siapa yang Hadir dalam Pertemuan Ini?
Beberapa menteri luar negeri BRICS menghadiri pertemuan di India, termasuk Sergey Lavrov dari Rusia, Ronald Lamola dari Afrika Selatan, Mauro Vieira dari Brasil, Abbas Araghchi dari Iran, dan Sugiono dari Indonesia.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi tidak hadir karena kunjungan Trump ke Beijing. China diwakili oleh duta besarnya untuk India, Xu Feihong.
Peran perwakilan UEA masih belum jelas, bahkan ketika ketegangan antara Abu Dhabi dan Teheran terus meningkat selama konflik berlangsung.

Agenda Resmi Berfokus pada Kerja Sama
Kementerian Luar Negeri India mengatakan tema pertemuan tersebut adalah “Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan.”
Agenda resmi mencakup kerja sama di bidang perawatan kesehatan, pembangunan, dan tantangan global. Namun, para pengamat percaya bahwa perang Iran akan menyita banyak perhatian karena dampaknya terhadap diplomasi, pasar energi, dan persatuan BRICS.
Diskusi-diskusi tersebut juga diharapkan akan membentuk agenda untuk KTT BRICS mendatang pada bulan September.
Pertemuan Trump-Xi Menambah Lapisan Lain
Pertemuan BRICS berlangsung bersamaan dengan kunjungan Trump ke China, di mana ia diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Xi Jinping.
Para analis meyakini Trump mungkin akan mencoba membujuk Xi untuk menekan Iran agar menerima tuntutan AS, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan ketegangan di Teluk.
China sering menghindari peran sentral dalam konflik internasional yang berkepanjangan, tetapi para ahli mengatakan Beijing dapat menjadi lebih aktif jika melihat manfaat strategis. Beberapa analis percaya Taiwan dapat menjadi bagian dari kesepakatan diplomatik yang lebih luas antara Washington dan Beijing.
Mengapa Pertemuan Ini Penting
Pertemuan para menteri luar negeri BRICS penting karena perang Iran bukan hanya masalah regional. Perang ini telah menjadi krisis ekonomi dan diplomatik global.
Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pasokan energi, yang secara langsung memengaruhi beberapa negara anggota BRICS. India dan China sangat bergantung pada minyak Teluk. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menggunakan selat tersebut untuk mengirimkan ekspor energi. Anggota lainnya, termasuk Brasil, Mesir, dan Afrika Selatan, juga terkena dampak kenaikan harga bahan bakar.
Pada saat yang sama, pembatasan Iran terhadap pengiriman barang dan blokade angkatan laut AS di sekitar pelabuhan Iran telah memperdalam kekhawatiran tentang stabilitas minyak dan gas global.
BRICS Mungkin Akan Kesulitan Menemukan Suara Bersama
Terlepas dari pentingnya pertemuan tersebut, para ahli percaya bahwa BRICS mungkin akan kesulitan untuk menghasilkan pernyataan bersama yang kuat mengenai Iran.
Blok tersebut sering menghindari mengambil posisi tajam dalam konflik yang melibatkan kepentingan anggotanya. Sebaliknya, mereka cenderung menggunakan bahasa yang luas tentang kedaulatan, diplomasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Karena adanya perbedaan pendapat antara Iran dan UEA, hubungan India dengan Israel, dan perhitungan strategis China sendiri, BRICS mungkin akan kesulitan untuk berbicara dengan satu suara.
Meskipun demikian, pertemuan di New Delhi tetap penting. Pertemuan ini menunjukkan bagaimana perang Iran menguji kekuatan, persatuan, dan pengaruh global BRICS pada saat blok tersebut berupaya menampilkan diri sebagai suara alternatif yang lebih kuat dalam urusan dunia.

