Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah beberapa Teluk Arab Negara-negara diliputi gelombang serangan baru, seiring dampak dari perang Amerika Serikat-Israel di Iran terus menyebar di Timur Tengah. Konflik yang kini telah berlangsung hampir tiga minggu ini telah menyebabkan meningkatnya korban jiwa, kehancuran, ketidakstabilan politik, dan krisis energi yang dampaknya meluas jauh melampaui kawasan tersebut.
Pada Selasa pagi, Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan angkatan bersenjatanya mencegat serangan rudal yang ditujukan ke negara tersebut. Di Kuwait, Garda Nasional mengatakan telah menembak jatuh pesawat tak berawak pada subuh hari, hanya beberapa jam setelah militer Kuwait melaporkan bahwa mereka menanggapi ancaman rudal dan pesawat tak berawak yang bermusuhan.
Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain juga melaporkan telah mencegat rudal dan drone yang datang dalam beberapa jam terakhir. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan sebuah drone dicegat dan dihancurkan di Wilayah Timur, sementara UEA mengatakan pertahanan udaranya secara aktif menanggapi ancaman dari Iran.
Ledakan Dilaporkan Saat Pertahanan Udara Bertindak
Di Uni Emirat Arab, Kementerian Pertahanan mengatakan pada hari Selasa bahwa sistem pertahanan udara negara itu sedang menanggapi ancaman rudal dan drone yang datang. Pernyataan tersebut menyusul serangan Iran lainnya yang dilaporkan terjadi sebelumnya pada hari yang sama. Kemudian, sebuah ledakan keras terdengar di Dubai ketika pihak berwenang mengatakan sistem pertahanan sedang menangani ancaman rudal.

Melaporkan dari Dubai, Zein Basravi dari Al Jazeera mengatakan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di antara negara-negara Teluk yang paling parah terkena dampak kampanye pembalasan Iran. Ia mengatakan ribuan proyektil telah diluncurkan ke arah negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dengan lebih dari setengahnya dilaporkan ditujukan ke lokasi di UEA. Ia menambahkan bahwa ledakan di malam hari dan pemandangan tembakan pertahanan di langit telah menjadi semakin umum di kota-kota di seluruh Teluk.
Sejumlah kematian juga dilaporkan di berbagai negara Teluk sejak konflik dimulai, sementara dampak ekonominya semakin parah.
Perekonomian Negara-negara Teluk Mengalami Tekanan yang Semakin Meningkat
Perang tersebut memberikan tekanan ekonomi terberat pada perekonomian negara-negara Teluk. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, Iran terus menyerang negara-negara Teluk, dengan alasan menargetkan pangkalan militer yang digunakan oleh Amerika Serikat. Pemerintah negara-negara Teluk menolak pembenaran tersebut dan mengatakan serangan itu tidak dapat dibenarkan.
Serangan berulang telah mengganggu produksi energi, perjalanan, dan pariwisata, menciptakan risiko kerusakan ekonomi terburuk yang pernah terjadi di kawasan ini sejak Perang Teluk 1990-1991. Para analis mengatakan dampaknya sudah cukup besar setelah hampir tiga minggu konflik yang berkepanjangan.
Menurut data energi yang dikutip dalam pemberitaan baru-baru ini, produksi harian produsen minyak Timur Tengah turun dari sekitar 21 juta barel menjadi 14 juta barel setelah lebih dari seminggu konflik, sebagian besar karena penutupan Selat Hormuz dan gangguan pasokan yang lebih luas. Penutupan tersebut juga turut mendorong harga minyak naik tajam dan meningkatkan tekanan pada pemerintah dan pasar di seluruh dunia.
Dampak Regional Terus Meluas
Serangan-serangan terbaru menunjukkan bahwa perang tidak lagi terbatas pada satu medan pertempuran. Pencegatan rudal, peringatan pertahanan udara, gangguan ekonomi, dan meningkatnya ketidakamanan di seluruh negara-negara Teluk menggarisbawahi betapa dalamnya konflik ini memengaruhi kawasan yang lebih luas. Seiring berlanjutnya serangan Iran dan pemerintah regional tetap dalam keadaan siaga tinggi, kekhawatiran semakin meningkat bahwa krisis dapat meluas lebih jauh di hari-hari mendatang.

