Jumlah Korban Tewas di Gaza Melampaui 75,000 Jiwa Setelah Data Independen Mengkonfirmasi Kerugian

ByJennifer Lopez

Februari 19, 2026
Jumlah Korban Tewas di Gaza Melampaui 75,000 Jiwa Setelah Data Independen Mengkonfirmasi Kerugian

Korban jiwa akibat perang di Gaza Angka tersebut tampak jauh lebih tinggi daripada perkiraan resmi sebelumnya, dengan penelitian akademis independen menunjukkan bahwa lebih dari 75,000 orang telah meninggal akibat kekerasan pada awal tahun 2025. Temuan yang dipublikasikan di jurnal medis terkemuka ini menunjukkan bahwa catatan administratif yang ada mungkin hanya mewakili angka dasar minimum dan bukan gambaran lengkap dari total kerugian.

Sebuah studi populasi skala besar yang dikenal sebagai Survei Kematian Gaza (GMS), diterbitkan pada Kesehatan Global LancetDiperkirakan sekitar 75,200 kematian akibat kekerasan terjadi antara 7 Oktober 2023 dan 5 Januari 2025. Angka ini setara dengan sekitar 3.4 persen dari populasi Gaza sebelum perang yang berjumlah sekitar 2.2 juta jiwa dan jauh lebih tinggi daripada 49,090 kematian akibat kekerasan yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan (MoH) Gaza untuk jangka waktu yang sama.

Hingga akhir Januari tahun ini, Kementerian Kesehatan Gaza Kementerian Pertahanan melaporkan setidaknya 71,662 kematian sejak konflik dimulai, termasuk ratusan korban jiwa yang tercatat bahkan setelah gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025. Meskipun pejabat Israel sering mempertanyakan statistik kementerian tersebut, seorang pejabat militer Israel mengakui awal tahun ini bahwa jumlah korban jiwa di Gaza sekitar 70,000, yang secara umum sesuai dengan perkiraan independen.

Validasi Ilmiah Angka Korban Jiwa

Para peneliti di balik GMS mendasarkan kesimpulan mereka pada wawancara dengan sekitar 2,000 rumah tangga yang mewakili hampir 10,000 individu, menawarkan landasan empiris untuk memperkirakan jumlah korban jiwa. Penulis utama, Michael Spagat dari Royal Holloway, Universitas London, mencatat bahwa meskipun mekanisme pelaporan resmi di Gaza secara umum tetap dapat diandalkan, kemungkinan besar angka tersebut bersifat konservatif karena kerusakan infrastruktur yang diperlukan untuk mendokumentasikan kematian secara akurat.

Studi ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang diterbitkan di The Lancet Pada Januari 2025, survei yang menggunakan pemodelan statistik memperkirakan lebih dari 64,000 kematian selama sembilan bulan pertama perang. Berbeda dengan pendekatan berbasis model tersebut, survei baru ini mengandalkan pengumpulan data rumah tangga secara langsung, memperpanjang jangka waktu dan memberikan verifikasi lebih lanjut tentang skala kematian.

Para peneliti juga menekankan bahwa profil demografis korban — dengan perempuan, anak-anak, dan lansia yang menyumbang lebih dari setengah dari mereka yang tewas — tetap konsisten dengan angka yang sebelumnya dilaporkan oleh otoritas Palestina.

Namun, para analis memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya mungkin masih lebih tinggi karena ribuan jenazah diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan atau tidak dapat diidentifikasi karena skala kehancurannya. Selain kekerasan langsung, survei tersebut memperkirakan sekitar 16,300 kematian non-kekerasan, termasuk lebih dari 8,500 kematian tambahan yang terkait dengan memburuknya kondisi hidup dan runtuhnya sistem medis.

Para cendekiawan menggambarkan sebuah “paradoks utama” dalam dokumentasi korban: ketika fasilitas perawatan kesehatan dan pusat administrasi hancur, kemampuan untuk melacak kematian secara akurat menjadi semakin terbatas.

Jumlah Korban Tewas di Gaza Melampaui 75,000 Jiwa Setelah Data Independen Mengkonfirmasi Kerugian

Krisis Cedera Jangka Panjang dan Penundaan Operasi

Selain korban jiwa, perang tersebut telah meninggalkan beban cedera yang sangat besar yang sulit ditangani oleh sistem perawatan kesehatan Gaza yang melemah. Sebuah studi prediktif multi-sumber terpisah yang diterbitkan di eKlinisKedokteran Diperkirakan lebih dari 116,000 kasus cedera kumulatif hingga 30 April 2025.

Menurut penelitian tersebut, antara 29,000 hingga 46,000 cedera ini memerlukan operasi rekonstruksi yang kompleks. Lebih dari 80 persen cedera disebabkan oleh ledakan, termasuk serangan udara dan penembakan di daerah padat penduduk.

Para ahli medis yang terlibat dalam penelitian tersebut memperingatkan bahwa meskipun kapasitas bedah Gaza dipulihkan ke tingkat sebelum perang, dibutuhkan sekitar satu dekade untuk menangani tumpukan kasus rekonstruksi yang tertunda. Sebelum eskalasi, wilayah tersebut hanya memiliki sejumlah kecil ahli bedah rekonstruksi bersertifikat yang melayani populasi lebih dari dua juta jiwa.

Runtuhnya Infrastruktur Pelayanan Kesehatan

Kesenjangan akses pengobatan semakin melebar akibat kerusakan parah pada fasilitas medis. Pada Mei 2025, hanya 12 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih mampu memberikan perawatan di luar layanan darurat dasar. Kapasitas tempat tidur rumah sakit turun dari lebih dari 3,000 sebelum perang menjadi sekitar 2,000 tempat tidur untuk seluruh penduduk.

Para peneliti mencatat bahwa layanan medis khusus, terutama bedah rekonstruksi dan bedah mikro, kini sebagian besar tidak tersedia di Gaza. Cedera parah, termasuk luka bakar dan trauma akibat ledakan, seringkali tidak diobati, sehingga meningkatkan risiko infeksi, kecacatan jangka panjang, dan kematian.

Kurangnya pengobatan tepat waktu berarti banyak pasien menghadapi kecacatan permanen, dan para profesional medis memperingatkan bahwa puluhan ribu penyintas mungkin hidup dengan kondisi jangka panjang yang dapat diobati melalui pembedahan kecuali jika dukungan medis internasional berskala besar diberikan.

“Zona Abu-abu” Kematian

Para ahli juga menyoroti munculnya apa yang mereka sebut sebagai "zona abu-abu" dalam statistik kematian, di mana kematian yang disebabkan secara tidak langsung oleh kondisi terkait perang sulit dikategorikan. Individu yang meninggal beberapa bulan setelah cedera akibat infeksi, kegagalan organ, atau kurangnya akses ke air bersih dan perawatan medis mungkin tidak dihitung sebagai korban perang langsung, yang berpotensi meremehkan dampak kemanusiaan secara keseluruhan.

Kondisi di Gaza dilaporkan memburuk sejak periode penelitian, dengan evakuasi skala besar yang memengaruhi lebih dari 80 persen wilayah pada akhir tahun 2025 dan kekurangan pangan parah yang dinyatakan di beberapa bagian Gaza utara. Faktor-faktor ini semakin memperburuk prospek kesehatan dan pemulihan warga sipil yang terluka.

Para peneliti menyimpulkan bahwa konvergensi antara jumlah korban jiwa yang tinggi, cedera yang meluas, dan penghancuran infrastruktur perawatan kesehatan menggarisbawahi skala krisis kemanusiaan. Mereka menekankan bahwa serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas medis berisiko semakin meningkatkan angka kematian langsung dan tidak langsung, sekaligus memperdalam konsekuensi medis dan sosial jangka panjang dari konflik tersebut.

ByJennifer Lopez

IWCP.net – Berita Singkat – Isle of Wight Candy Press – Pandangan alternatif tentang berita Isle of Wight.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *