Satu tahun setelah konflik militer yang singkat namun intens antara India ke PakistanKedua negara masih menampilkan perang tersebut sebagai sebuah keberhasilan. Di Pakistan, ruang publik di kota-kota besar dipenuhi dengan spanduk dan poster yang memuji kepemimpinan militer negara itu. Upacara dan acara resmi diadakan untuk menandai apa yang digambarkan Islamabad sebagai pencapaian pertahanan utama.
Di Rawalpindi, Angkatan Udara Pakistan mengadakan upacara yang menyoroti perannya selama bentrokan udara dengan India. Di Lahore, sebuah konser yang didukung pemerintah merayakan apa yang disebut Pakistan sebagai "Hari Pertempuran Kebenaran." Peristiwa-peristiwa ini mencerminkan narasi resmi Islamabad bahwa angkatan bersenjatanya berhasil mempertahankan negara selama konflik empat hari tersebut.
India juga mempertahankan narasi kemenangannya sendiri. Perdana Menteri Narendra Modi menandai peringatan Operasi Sindoor, kampanye militer India pada Mei 2025 melawan Pakistan, dengan mengubah foto profilnya di X dan mendorong warga untuk melakukan hal yang sama. Ia memuji angkatan bersenjata India atas keberanian, ketepatan, dan tekad mereka dalam apa yang digambarkan New Delhi sebagai operasi melawan terorisme.
Klaim Publik dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Kedua pemerintah telah menggunakan pengarahan resmi untuk memperkuat versi mereka tentang konflik tersebut. Pejabat militer India mengatakan India menyerang lapangan udara Pakistan dan menghancurkan beberapa pesawat. Di sisi lain, militer Pakistan mengatakan telah mengalahkan lawan yang jauh lebih besar dan memperingatkan bahwa mereka tetap siap menghadapi tantangan apa pun di masa depan.
Namun, para analis berpendapat bahwa perayaan publik tersebut menyembunyikan realitas yang lebih rumit. Di balik klaim kemenangan, baik India maupun Pakistan masih menghadapi pertanyaan sulit tentang apa yang terungkap dalam konflik tersebut. Perang mungkin telah berakhir dengan cepat, tetapi kelemahan yang terungkap selama empat hari itu tetap penting bagi kedua negara.
Para ahli mengatakan bahwa tidak ada pihak yang meraih kemenangan bersih atau lengkap. Sebaliknya, konflik tersebut menghasilkan campuran keuntungan militer, konsekuensi diplomatik, dan kerentanan yang belum terselesaikan.
Bagaimana Konflik Itu Bermula
Krisis dimulai setelah sekelompok pria bersenjata menyerang wisatawan di Pahalgam, di Kashmir yang dikelola India, pada 22 April 2025, menewaskan 26 warga sipil. India menyalahkan Pakistan atas serangan itu, sementara Islamabad membantah tuduhan tersebut.
Pada 7 Mei 2025, India melancarkan Operasi Sindoor, menyerang beberapa lokasi di Pakistan dan Kashmir yang dikelola Pakistan. New Delhi mengatakan serangan itu menargetkan infrastruktur militan. Namun, Pakistan mengatakan warga sipil juga terkena dampak dan membalas dengan operasinya sendiri, yang disebut Bunyan al-Marsoos.
Pertempuran berlangsung selama empat hari sebelum gencatan senjata diumumkan pada 10 Mei 2025. Namun, cara perang berakhir tetap menjadi isu yang sensitif secara politik, dengan kedua belah pihak terus menggambarkan hasil tersebut sesuai kepentingan mereka sendiri.

Keuntungan Pakistan dalam Konflik
Klaim keberhasilan terkuat Pakistan berasal dari pertempuran udara di awal konflik. Jet tempur J-10C Pakistan, yang dibangun oleh China, dilaporkan menembak jatuh pesawat India, termasuk Rafale, selama fase awal pertempuran.
India kemudian mengakui kehilangan pesawat, meskipun tidak memberikan rincian lengkap. Para pejabat India menganggap kerugian tersebut sebagai bagian dari pertempuran, sementara Pakistan menganggapnya sebagai bukti efektivitas angkatan udaranya.
Pakistan juga memperoleh keuntungan diplomatik setelah menerima klaim mantan Presiden AS Donald Trump bahwa ia membantu menengahi gencatan senjata. Islamabad kemudian menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Sepanjang tahun berikutnya, profil diplomatik Pakistan semakin meningkat, terutama karena memainkan peran mediasi dalam ketegangan regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Kemajuan Militer India
India juga menyoroti pencapaian signifikan. Rudal BrahMos-nya menghantam beberapa pangkalan udara Pakistan, termasuk Nur Khan di Rawalpindi dan Bholari di Sindh. India juga menggunakan drone buatan Israel yang dilaporkan mencapai daerah dekat Karachi dan Lahore.
New Delhi juga menangguhkan partisipasinya dalam Perjanjian Perairan Indus tak lama setelah serangan Pahalgam. Langkah ini menambahkan dimensi non-militer yang besar pada konflik dan menciptakan tekanan jangka panjang pada Pakistan.
Citra satelit yang dirilis oleh perusahaan-perusahaan Barat menunjukkan kerusakan di lokasi militer Pakistan. Namun, citra publik serupa dari lokasi-lokasi India yang diduga terkena serangan Pakistan tidak dirilis, sehingga menyulitkan penilaian independen terhadap kerusakan di kedua belah pihak.
Ketidakseimbangan ini telah berkontribusi pada narasi yang saling bertentangan. Pakistan menyoroti kerugian pesawat India, sementara India menunjuk pada serangan mendalam terhadap infrastruktur militer Pakistan.
Kelemahan Militer Pakistan Tetap Ada
Selama setahun terakhir, Pakistan telah berupaya memperkuat kemampuan militernya. Angkatan bersenjatanya mengumumkan pengoperasian Komando Pasukan Roket Angkatan Darat, yang dirancang untuk meningkatkan pengambilan keputusan rudal konvensional dan opsi serangan jarak jauh.
Pakistan juga telah memperkenalkan atau membahas sistem rudal baru, termasuk Fatah-III, Fatah-IV, dan Fatah-V. Para analis mengatakan sistem-sistem ini dapat memberi Pakistan pilihan serangan konvensional yang lebih kredibel dalam konflik di masa depan.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa rudal baru saja tidak akan menyelesaikan kerentanan terbesar Pakistan: pertahanan udara. Selama konflik tahun 2025, sistem pertahanan udara HQ-9B buatan China yang digunakan Pakistan gagal mencegat rudal BrahMos India. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang kemampuan Pakistan untuk melindungi situs-situs militer penting dari senjata jarak jauh berkecepatan tinggi.
Para analis percaya bahwa Pakistan membutuhkan lebih dari sekadar senjata baru. Negara itu juga harus meningkatkan fasilitas perlindungan pesawat yang kokoh, kapasitas perbaikan landasan pacu, dan strategi penyebaran untuk mencegah pangkalan udaranya lumpuh dalam krisis di masa depan.
Akhir dari Keamanan Geografis
Konflik tersebut juga menunjukkan bahwa jarak tidak lagi menjamin perlindungan. Serangan India mencapai Rawalpindi, Bholari, dan daerah lain yang berada jauh di dalam wilayah Pakistan. Para analis mengatakan ini membuktikan bahwa rudal jarak jauh, drone, perangkat siber, dan senjata yang dipandu satelit telah mengurangi nilai geografi sebagai kedalaman strategis.
Bagi Pakistan, hal ini menciptakan tantangan doktrinal yang besar. Negara ini harus bersiap menghadapi kemungkinan bahwa konflik di masa depan dapat melibatkan serangan yang jauh melampaui wilayah perbatasan. Pada saat yang sama, pengeluaran pertahanan Pakistan masih jauh lebih kecil daripada India.
Islamabad meningkatkan anggaran militernya setelah perang, tetapi anggaran pertahanan India masih jauh lebih besar. Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah Pakistan dapat mengimbangi persaingan persenjataan jangka panjang.
Ulasan yang Lebih Tenang dari India
India kurang terbuka mengenai kerugian medan perang yang dialaminya sendiri. Para pejabat India telah mengakui kehilangan pesawat, tetapi belum memberikan rincian lengkap. Para analis mengatakan hal ini memungkinkan New Delhi untuk mempertahankan narasi publik yang kuat sambil menghindari pengawasan publik yang lebih mendalam.
Beberapa ahli berpendapat bahwa keterbukatan informasi yang terbatas dari India mungkin dapat dibenarkan karena alasan operasional, terutama karena New Delhi mengatakan Operasi Sindoor hanya ditangguhkan, bukan secara resmi diakhiri. Yang lain mengatakan bahwa demokrasi seharusnya lebih transparan, terutama ketika konflik tersebut melibatkan risiko militer yang serius.
India juga menghadapi ketidaknyamanan diplomatik setelah Pakistan secara terbuka mendukung klaim gencatan senjata Trump, sementara New Delhi bersikeras bahwa gencatan senjata tersebut diatur secara bilateral. Kontras ini memberi Pakistan kesempatan untuk membentuk sebagian narasi internasional.
Diplomasi Tetap Beku
Terlepas dari gencatan senjata, akar penyebab konflik tetap belum terselesaikan. India terus menuntut tindakan nyata terhadap kelompok-kelompok militan anti-India. Pakistan membantah mendukung kelompok-kelompok tersebut dan menyatakan bahwa India menggunakan isu ini untuk membenarkan agresi.
Para analis memperingatkan bahwa kurangnya saluran komunikasi yang andal meningkatkan risiko krisis lain. Dengan kedua negara dipersenjatai senjata nuklir, bahkan konflik terbatas pun dapat dengan cepat meningkat.
Doktrin India saat ini tampaknya memperlakukan serangan besar sebagai tindakan perang, sementara Pakistan sedang mempersiapkan opsi respons konvensional yang lebih kuat. Hal ini menciptakan lingkungan berbahaya di mana masing-masing pihak mungkin merasa tertekan untuk merespons dengan cepat dan tegas.
Perjanjian Perairan Indus Menjadi Titik Konflik
Salah satu masalah jangka panjang yang paling serius adalah air. India menangguhkan Perjanjian Air Indus pada 23 April 2025, dan belum memulihkannya. Perjanjian ini sangat penting bagi Pakistan karena mendukung salah satu sistem irigasi terbesar di dunia dan memasok sebagian besar air pertanian negara tersebut.
Para ahli mengatakan penangguhan tersebut bukanlah krisis air yang mendesak, tetapi memiliki signifikansi politik dan strategis. Beberapa analis hukum berpendapat India tidak memiliki dasar dalam perjanjian untuk menangguhkan pelaksanaannya. Mereka juga mengatakan India tetap berkewajiban untuk berbagi data terkait air.
Sebagian pihak berpendapat bahwa masalah air internal Pakistan mungkin bahkan lebih mendesak daripada tindakan India. Pemeliharaan kanal yang buruk, metode pertanian yang ketinggalan zaman, pilihan tanaman yang tidak sesuai, dan kapasitas penyimpanan yang terbatas semuanya membuat Pakistan rentan.
Perubahan iklim menambah lapisan risiko lain. Jika suhu regional terus meningkat, gletser yang memasok air ke sistem sungai utama dapat menyusut tajam, menciptakan tantangan keamanan air jangka panjang yang lebih besar.
Pelajaran yang Belum Dipetik
Setahun setelah perang, India dan Pakistan sama-sama mengklaim keberhasilan, tetapi pelajaran yang lebih dalam masih belum terselesaikan. Pakistan menunjukkan kekuatan tempur udara di awal perang tetapi memperlihatkan kelemahan pertahanan udara yang besar. India menunjukkan kemampuan serangan jarak jauh tetapi menghadapi pertanyaan tentang kehilangan pesawat dan pesan diplomatik.
Kedua negara juga menyadari bahwa konflik di masa depan mungkin akan bergerak lebih cepat, menjangkau lebih dalam, dan membawa risiko yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Rudal, drone, sistem siber, dan senjata yang dipandu satelit telah mengubah medan perang.
Bagi para analis, kekhawatiran terbesar bukanlah sekadar siapa yang menang atau kalah pada tahun 2025. Isu yang lebih besar adalah apakah kedua negara telah membangun ruang diplomatik yang cukup untuk mencegah krisis berikutnya menjadi lebih berbahaya.
Kesimpulan
Setahun setelah konflik India-Pakistan, kedua pemerintah terus merayakan versi kemenangan mereka masing-masing. Pakistan menunjuk pada keberhasilan pertempuran udara dan keuntungan diplomatik, sementara India menyoroti serangan mendalam dan kampanyenya melawan infrastruktur militan.
Namun, konflik tersebut juga mengungkap kelemahan serius di kedua belah pihak. Celah pertahanan udara Pakistan, transparansi India yang terbatas, sengketa Kashmir yang belum terselesaikan, dan penangguhan Perjanjian Perairan Indus terus membentuk ketegangan regional.
Perang mungkin hanya berlangsung selama empat hari, tetapi konsekuensinya masih terus terasa. Tanpa saluran komunikasi yang lebih kuat dan diplomasi yang tenang, para ahli memperingatkan bahwa krisis berikutnya antara India dan Pakistan dapat meningkat jauh lebih cepat.

